Jiwa Semesta

Mengalir restu semesta

untuk setiap jiwa yang menggantung asa

untuk setiap raga yang memilih langkah

tanpa tawaran kegelapan

======

Tak ada ketakutan bagi mimpi

Bahkan mimpi terburukpun tak memberi rasa takut

Hanya terkejut

Hanya was-was

=======

Ketakutan hanyalah prosesi menuju celaka

Senjata iblis tuk mencari teman

Menemani di sudut gelap semesta

==========

Tak akan ada penyesalan

bagi mereka yang memandang ke belakang dan ke depan

dengan langkah satu tujuan

berjuta pegangan

==============

Semesta

Izinkan aku berkata

Walau terdengar hanya sedepa

Ini adalah hormatku padamu

=====================

Telaga Memori

Lama bermain hingga senja

Kubiarkan saja tubuh mengerut

Tercumbu air telaga warna ungu

===

Sudah lama penjaga pergi

Kini hanya mentari yang tanggapi

Hanya angin yang memberi saji

Hanya mimpi yang memberi kenangan

====

Bidadari dulu datang dari surga

Mandi disini, melepaskan tawa kecil

Seraya membasuh selendang

Hingga air pun diam menanti sentuhan

=====

Wahai matahari

Wahai bidadari

Wahai surga

Cerita indahmu terikat memori

Cerita cantikmu terasah nafsu

Cerita  nikmatmu terbelenggu ketagihan

======

Terasa sekejap

Namun banyak rasa

Taklah ingin terlalu lama mengenang

Karena kelam kan menghitamkan pandang

Sekotak Mimpi Sebutir Semangat

Harum kopi jam tiga pagi

Awan beriringan dari puncak gunung di mata angin selatan

Ia kan kunjungi mentari pagi di utara rasa

 

Terdiam menyeruput kesepian

Semua tinggal kuhirup

Harum dedaunan, asap, dan bau tanah sisa semalam

 

Tak harus melangkah

karena mereka yang datang

Matahari dengan seribu kaki

Membuat peluh meledak

 

Ketakutanku hanyalah tepi pikiran

yang hilang dengan mudah saat menggantung asa

Biarkan semua menguap saat sahabat datang

Toh kutemui lagi di hidup yang satu lagi

 

Saat badanku jadi aroma kopi makhluk baru

Saat mimpiku jadi bantal-bantal pembuat nyaman malaikat

Tuhan saat itu berikan aturan

“Nikmati saja, toh tak ada siksa”

 

doa pagi di bawah pohon kersen, dekat parkiran motor…

Tuhan,

jadikan keinginan jadi doa yang Kau dengar
jadikan kebencianku jadi tanah yang terkubur
jadikan gembira jadi wangi semerbak kebun melati

bukakan mata laksana ketakutan atas buta
pekakan telinga laksana terdengar nafas ditengah badai menghempas
kuatkan pijakan laksana akar merambat sekitar

biarkan angin membuatku segar
mengirimkan  cerita yang beraroma
melesakkan nada hempasan kayu dan dedaunan
karena itulah dunia, yang selalu berisi cerita dan suara

Bumi yang kini kupijak
Jadikan ia hamparan harap
Hingga setiap langkah terisi makna
Hingga setiap niat terisi nyata

Tuhan,

Ampuni aku untuk kemarin
Ampuni aku untuk kini
Dan ampuni setiap lipatan waktu yang membawaku pergi
Bawalah aku selalu dalam teduh…

suara lembut di atas dahan pohon kapuk

matahari sudah sembunyi di ketiak bumi saat ku mendengar suara dari pohon kapuk

semilir angin menemani sepi …

tak terasa airmata jatuh dipelupuk..

….

sempet ku bertanya apakah debu beterbangan di atas sini… ataukah matahari terlalu terik siang tadi? hingga mata terisi air yang membersihkannya..

……

seandainya matahari tau betapa sinarnya menghangati dinginnya hati.. seandainya malam mengerti heningnya menambah kegamangan hati.. debu pun ikut menyapa seakan mengerti…diriku…sepi..

………

bila kau tahu wahai suara lembut di dahan kapuk
kenapa matahari selalu kembali ke ketiak bumi

itu hanya karena ia ingin menghangatkanmu.. menjadikan malam lebih dingin dari hati yang dingin
dan mata pun terpejam menikmati hangatnya hati

……..

atau ……..

apakah kau jadikan malam sebagai bantal di dalam mimpi…
hingga kau tak perlu terbang tinggi dengan sayapmu..
tapi biarkan mimpimu mengejar kembali hangatnya matahari yang kini sembunyi..
dan biarkan hatimu dipeluk hangat oleh selimut esok hari…

hidup tak hanya diam

Kurasakan lambaian tangan
tuk silam terlanjur kelam
lepas tali pengikat harapan
saat bahtera rajuk samudera
………………………
Deru ombak isi dada yang sesak
Awan hitam lingkari asa ragu
Namun diri tak ingin kembali
Karena kelam tak kuulang
…………………
Terlanjur kupercaya pada angin
Yang memberikan arah
Yang meniupkan harapan
…………..
Terlanjur, ku lepaskan impian
Pada samudera yang luas
Dan biru laut terdalam..

………..

Tak ingin menepi
Rasakan kaki, di lembutnya bulir pasir
Di sepoinya angin pesisir
……..
Karena hidup hanya misteri
Saat kita hanya diam
Nikmati kesenangan…

retas kelu hati pilu

Maha Suci Tuanku

memberi sinar pada kegelapan

membiaskan cahaya

airmata sekilau permata

……………….

Kau terangkan jalan berliku

laksana sungai mandiku

Kau sucikan setiap pilu

hingga ragu terbungkus ilmu

………..

Tuanku, penguasa jagad raya

Kau lapangkan ruang di kota sempit

Kau hapuskan batas dalam langkahku

Hingga mati ku ada untukMu

…..

doa di bulan yang hitam

Tuhanku…

aku ingin bersujud

di malam gelap

tanpa bulan yang terang

……..

Tuhanku..

beri aku nafas untuk 30 hari ke depan

agar aku bisa melangkah

agar aku meraih malam indah seribu bulan

…………..

tak ada yang kuharapkan

di sela keindahan surgawi

yang biasa telah Kau beri di mimpi

selain senyumMu menghiasi langkahku

…………………..

malam yang larut

ini adalah malamku

untukMu ilahi

yang menciptakanku

………………………………

aku ingin bersamaMu

aku ingin berdansa dengan doa

aku ingin mendengar nada-nada angin malam

yang meniupkan sejuknya harapan…

………………………………………………

untuk anakku yang kini di surga

untuk istriku di hamparan sayangMu

untuk ikhtiarku di lorong waktuMu..

aku ingin senyumMu mewakili hidupku…

………………………………………………………………….

(taqabalallahuminnawaminkum.. mohon maaf lahir batin..untuk ramadhan yang indah)

hatiku di surga

angin dingin

ranting sawo belanda pun kelu

di makam putri sulungku

doa terbang terbawa angin

…….

hamparan sawah menghias duka

pelajaran berharga untuk jiwa fana

karena hidup harus terbiasa luka

agar alam tetap indah tanpa saujana

………..

terhempas dukaku

terhempas pula sukaku

pada ladang harap

yang kini semakin menguning

………………..

tuhan yang memberi arti

yang dalam di sumur kehidupan

kini berilah aku waktu

untuk mandi dari airnya….

………………………….

jiwa jiwa penyok

seolah aku tadi melihat bis melaju kencang

kencangnya seperti angin..

angin berputar akibat tubuh bongsornya…

seolah aku tadi berjalan di atas jembatan gantung

yang bergoyang karena dilewati beban yang melintas kencang

khawatir aku akan goyangnya

karena seolah pijakan tak bertuah

………..

wahai jiwa jiwa

tidakkah kau lihat di dalam keinginanmu

kekuatan-kekuatan yang mendorong tak berhenti

hingga kau tak suka sesuatu yang menghalang

…………

wahai jiwa jiwa

pastikan kau punya rem untuk laju egomu

karena alam pasti akan berusaha melawan

hingga kau merasa bergoyang saat berpijak

…………….

wahai jiwa jiwa

pastikan kau punya rem untuk laju egomu

karena kau harus berhenti

saat ada gunung menjulang

karena kau harus menepi

saat ada jurang membentang

atau kau ingin memilih melaju kencang

dan mati dalam kebingungan

…………….

karena lajumu di saat itu adalah hari kemarin

yang berusaha menarikmu dari hari ini

…………..

wahai jiwa jiwa yang melaju kencang

berhentilah di persimpangan

melambatlah di kelokan

atau kau lebih memilih

menjadi jiwa jiwa penyok

« Older entries